Komet Siding Spring Lintasi Mars,
NEFOSNEWS, Jakarta - Sebuah komet bernama Siding Spring atau C/2013 A1 akan melintas dekat planet Mars, pada Senin (20/10/2014). Bagaimana jika komet berdiameter 700 meter ini menabrak Monas?
Komet ini dengan bumi jaraknya memang 240 juta kilometer. Dengan kecepatan 56 kilometer/detik, komet ini bisa melaju tak terhindarkan.
Menurut Ma’rufin Sudibyo, astronom, akibatnya sungguh dahsyat jika komet ini menabrak suatu tempat di bumi. Monas hanyalah salah satu contoh agar mudah memahami, seperti yang ditulis dalam blog-nya. (Baca: Komet Siding-Spring, Komet Yang Bakal Nyaris Menubruk Planet Mars)
Dalam blognya tersebut, Ma'rufin menjelaskan jika komet tersebut jatuh menabrak Monas yang berada di Jakarta, maka energi sebesar 61.000 megaton TNT akan terlepas dalam bentuk bola api tumbukan bersuhu 10 ribu derajat celcius berdiameter 13 kilometer. Itu setara dengan 1,2 triliun bom nuklir Hiroshima yang diledakkan secara serempak, tingkat pelepasan energi yang belum pernah disaksikan umat manusia sepanjang sejarah peradabannya.
Energi tumbukan tersebut juga bakal menggali tanah di Monas dan sekitarnya hingga membentuk cekungan kawah berdiameter 5,4 kilometer sedalam hampir 500 meter. Padahal ukuran kometnya "hanya" 700 meter.
Selain itu, gelombang kejut yang tercipta bisa merontokkan bangunan beton hingga sejauh Merak di sebelah barat dan Karawang-Bandung di sebelah timur.
Tak hanya itu, sinar inframerah berintensitas tinggi yang dihasilkan dari tumbukan dapat membuat orang hingga Jawa Tengah dan Lampung Barat mengalami luka bakar tingkat satu. Dipindah ke manapun lokasi titik tumbuknya, dampaknya akan serupa.
Sebaliknya jika komet tersebut jatuh di Samudera Hindia, maka akibatnya adalah tsunami. Berdasarkan simulasi, tsunami yang ditimbulkan minimal berketinggian 7 meter, berpotensi mengakibatkan korban jiwa dalam jumlah besar di pesisir Asia selatan dan tenggara.
"Semakin besar energinya, semakin jauh jangkauan perusak gelombang kejutnya dan semakin jauh juga jangkauan perusak sinar inframerah intensitas tingginya," kata Ma’rufin, seperti yang dilansir Kompas, pada Kamis (17/10/2014).
Semua itu memang hanya simulasi, meski memiliki basis latar belakang ilmiah yang cukup kuat. Bagaimana melindungi umat manusia dari bencana kosmik yang mengerikan semacam itu menjadi salah satu sasaran yang ingin dicapai ilmu pengetahuan dan teknologi termutakhir. Harapannya agar umat manusia bisa melanjutkan peradabannya hingga batas kemampuannya.
Kenyataannya yang terjadi pada Senin (20/10/2014) pukul 01.29 WIB nanti, komet Siding Spring tidak akan menuju bumi. Walau sempat diramalkan akan menumbuk Mars, komet tersebut hanya diprediksi lewat sangat dekat dengan planet itu.
Akibatnya? Debu komet tersebut bakal menyelimuti planet merah. Debu akan masuk ke atmosfer, berpotensi menimbulkan hujan meteor yang mengagumkan. Pada saat yang sama, wahana manusia yang kini berada di Mars terancam terganggu fungsinya.
Sebelumnya pada pada 3 Januari 2013 komet Siding Spring pertamakali ditemukan oleh Robert H McNaught. Nama Siding Spring merupakan nama yang diambil dari nama observatorium yang dipakai untuk pengamatan, Siding Spring Observatory di Australia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar